Konon burung Garuda sangat besar dan kuat. Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara yang akan Kakak ceritakan malam hari ini berkisah tentang seorang ksatria dan Burung Garuda. Kisah ini menjadi legenda asal muasal terbentuknya Gunnung Mekongga yang berada di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.
ProvinsiSulawesi Tenggara (disingkat Sultra) adalah sebuah provinsi yang terletak di bagian tenggara pulau Sulawesi, dan beribukota Kendari. Diresmikan pada 27 April 1964, dengan 15 kabupaten, 209 kecamatan dan 2272 kelurahan. Lagu ini mendeskripsikan tentang cerita rakyat yang melegenda di daerah tersebut, yakni kisah seorang putri cantik
Cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara Kendari – adalah cerita tentang seekor ikan kecil yang tinggal di lautan. Pada suatu ketika dia terses Cerita Rakyat Melayu : Petualangan Putri Hijau di Pekaitan
CeritaRakyat Dari Sulawesi Selatan. Dalam buku ini dimuat sembilan cerita rakyat dari Sulawesi Selatan. To Dilaling (Orang yang Hijrah) I Laurang Manusia Udang. Orang Yang Berdada Emas. Abunawas dan Orang Buta. Si Pembunuh Rajawali.
Cerita Rakyat Dari Nusa Tenggara Timur "Suri Ikun Dan Dua Burung". Pada jaman dahulu, di pulau Timor hiduplah seorang petani dengan isteri dan empat belas anaknya. Tujuh orang anaknya laki-laki dan tujuh orang perempuan.Walaupun mereka memiliki kebun yang besar, hasil kebun tersebut tidak mencukupi kebutuhan keluarga tersebut.
Tasai S. Amran (2009) Cahaya dari tenggara : cerita rakyat Sulawesi Tenggara. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. ISBN 9789796857999 Tasai, S. Amran (2005) Dua Angsaku yang Sakti. Pusat Bahasa, Jakarta. ISBN Thaleb, Nasrullah (2018) Arian dan Naya. Bacaan untuk Remaja Tingkat SMP .
Sawerigading adalah nama seorang putera raja Luwu dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam bahasa setempat Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu sawe yang berarti menetas (lahir), dan ri gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi nama Sawarigading berarti keturunan dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung
Sulawesi Tenggara merupakan rumah bagi berbagai suku bangsa seperti Suku Tolaki, Suku Wawonii, Suku Muna, Suku Wolio, Suku Wakatobi, Suku Kamaru, Suku Lasalimu, dan suku bangsa lainnya yang datang ke Sulawesi Tenggara.. Sulawesi Tenggara memiliki senjata tradisional yang lahir dari kebudayaan suku-suku di dalamnya seperti parang taawu, keris dan tombak Meantulu Tiworo, dan keris
Salah satunya wisata alam Sulawesi Tenggara yang lagi booming yaitu Danau Biru atau yang lebih dikenal dengan sebutan Danau Biru Kolaka Utara. Danau Biru ini berlokasi di Desa Walasiho, Kecamatan Wawo, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Lokasinya tidak terlalu jauh dengan destinasi wisata Pantai Tamborasi, kurang lebih 30 menit dari
Tari Mesambakai 8. Tari Lulo Sangia 9. Tarian Mondotambe 10. Tari Galangi 11. Tarian Cungka 12. Tarian Lumense 13. Tari Lulo. Makassar -. Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat beragam, termasuk dalam hal tarian tradisional di tiap provinsi telah yang memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing daerah.
SltFK. Makassar - Salah satu cerita rakyat Sulawesi Tenggara yang cukup populer adalah cerita tentang asal-usul Gunung Mekongga. Cerita rakyat ini masih hidup dan dipercaya di kalangan masyarakat secara Mekongga adalah sebuah gunung tertinggi yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Bahkan gunung ini pun termasuk ke dalam 7 gunung tertinggi yang ada di Pulau yang terletak di Kabupaten Kotala ini kerap menjadi incaran para pendaki dari berbagai daerah. Puncak tertingginya bernama puncak Masero-sero dengan ketinggian mencapai 2,620 mdpl. Di balik kokohnya Gunung Mekongga ini, terdapat cerita rakyat yang dipercaya sebagai asal-muasal tempat tersebut. Yakni legenda tentang seekor burung elang raksasa yang bernama seperti apa cerita rakyat tentang asal-usul Gunung Mekongga yang merupakan salah satu cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara? Berikut kisah selengkapnya dirangkum detikSulsel dari laman Perpustakaan Digital Budaya pada jaman dahulu di Negeri Sorume sekarang Kolaka, Sulawesi Tenggara hiduplah seekor burung garuda raksasa bernama Burung Kongga. Burung tersebut selalu membuat kekacauan di desa ia akan terbang dan memangsa hewan-hewan ternak milik penduduk desa. Bahkan jika ia tidak menemukan hewan, ia akan menculik seorang manusia dan penduduk merasa resah dan ketakutan dibuatnya. Semakin hari ternak-ternak milik warga perlahan semakin habis itulah penduduk Sorume pun mencari cara untuk mengatasi burung Kongga di sebuah negeri seberang bernama negeri Solumba sekarang Balandete, terdengarlah kabar bahwa ada seorang sakti mandraguna. Ia bernama adalah seorang tokoh yang datang dari tanah Luwu. Ia adalah kerabat dekat Sawerigading, yang merupakan tokoh penting nenek moyang orang dikutip dari laman resmi Kabupaten Kolaka, Sawerigading hidup sekitar abad XIV. Ia adalah cucu Batara Guru yang diutus oleh para Dewata untuk turun ke dunia dan memerintah di tanah Luwu kemudian menyebar ke beberapa wilayah, termasuk Sulawesi adalah keluarga dekat Sawerigading yang kemudian berangkat ke Tanah Alau Negeri di Timur. Tana Alau adalah sebutan orang Luwu untuk wilayah Sulawesi Tenggara karena mereka melihat matahari terbit di pagi hari ke arah di Tanah Alau, Ia pun menetap dan mendirikan kerajaan di Negeri Solumba. Di mana wilayah tersebut didiami oleh masyarakat yang menyebut dirinya 'Orang Tolaki' yang berarti orang-orang para penduduk di Sorume pun lantas mengirim utusan ke Negeri Solumba untuk menemui Larumbalangi. Serta bermaksud meminta kesediaan Larumbalangi untuk membantu mengusir burung elang Raksasa di negeri Solumba, para utusan itupun kemudian menceritakan mengenai peristiwa yang menimpa negeri mereka pada Larumbalangi. Ia pun memberikan saran pada penduduk Sorume untuk menggunakan bambu runcing untuk melawan si burung Kongga raksasa."Untuk mengatasi garuda raksasa, kalian harus menggunakan strategi yang tepat. Kumpulkanlah oleh kalian bambu tua kemudian buat ujungnya menjadi runcing. Olesi juga ujungnya dengan racun. Carilah seorang pemberani di negeri kalian untuk melawan si garuda raksasa. Pagari ia dengan bambu runcing. Jadi apabila burung Kongga menyerang, ia akan tertusuk oleh bambu beracun tersebut," kata utusan pun berterima kasih atas saran tersebut. Bergegaslah mereka pulang ke Negeri Sorume untuk melaksakan wasiat bambu runcing di Sorume, para utusan menceritakan saran Larumbalangi itu kepada para para tetua ada pun segera mengadakan sayembara guna mencari laki-laki pemberani untuk melawan burung raksasa tersebut menjanjikan bahwa siapapun yang bisa melawan si Burung Kongga Raksasa, jika ia adalah seorang rakyat jelata maka akan diangkat menjadi Bangsawan. Dan jika ia dari kalangan bangsawan, maka akan diangkat menjadi pemimpin hari Sayembara tersebut diadakan, ratusan pendekar dari berbagai wilayah untuk mengikutinya. Setiap orang menunjukkan kemampuannya di depan para tetua dan sesepuh negeri setelah melalui persaingan dan pemilihan yang ketat, terpilihlah seorang pemenang yang bernama Tasahea. Ia adalah seorang rakyat biasa namun pemberani dari negeri para sesepuh kemudian meminta penduduk untuk membuat bambu runcing yang diujungnya diolesi racun. Selanjutnya bambu-bambu runcing itu pun ditancapkan di Padang kemudian dimasukkan ke dalam lingkaran yang dikelilingi bambu beracun. Ia kemudian ditinggalkan sendirian untuk memancing si burung Garuda Raksasa berjam-jam Tasahea berdiri di dalam bambu runcing, namun burung garuda raksasa belum juga kelihatan. Hingga pada saat siang hari, tiba-tiba saja cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi mendung dan gelap itulah Tasahea melihat burung garuda raksasa terbang mendekatinya. Dengan suaranya yang menggelegar, burung raksasa tersebut siap menyerang dan memangsa belum sempat menyentuhnya, sayap si garuda tertusuk oleh bambu runcing beracun. Burung garuda raksasa pun mengerang ingin menyia-nyiakan kesempatan, Tasahea pun segera mengambil sebilah bambu runcing beracun yang ada di sampingnya. Dan lantas melemparkannya dan mengenai bagian dada si burung garuda semakin meronta-ronta kesakitan. Ia pun memutuskan untuk terbang menjauh dari tempat itu. Di kepakkan sayapnya lagi untuk melepaskan diri dari bambu runcing beracun segera terbang tinggi namun tak berapa lama, tubuhnya pun terjatuh tepat di atas sebuah gunung. Tak lama berselang, sang Garuda akhirnya mati terkena efek racun bambu negeri Sorume bersorak-sorak mengelu-elukan Tasahea sebagai kegembiraan rakyat tidak berlangsung lama. Bangkai burung garuda raksasa ternyata menyebarkan wabah penyakit. Banyak penduduk meninggal setelah muntah-muntah karena wabah penyakit. Begitu pula tanaman penduduk banyak mati diserang hal ini para tetua adat kembali mengirim utusan untuk menemui Larumbalangi. Sesampainya di negeri Solumba, para utusan menyampaikan permasalahan wabah yang berasal dari bangkai burung garuda Kongga kepada hal ini, Larumbalangi segera berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menurunkan hujan deras agar bangkai garuda raksasa beserta ulat-ulat terbawa mengabulkan doa Larumbalangi. Negeri Sorume dilanda hujan sangat deras selama tujuh hari tujuh malam. Akibatnya Negeri Sorume mengalami banjir hebat. Banjir hebat tersebut membawa bangkai garuda raksasa beserta ulat-ulat hanyut terbawa hujan reda & banjir surut, wabah penyakit beserta ulat yang melanda negeri Sorume akhirnya hilang. Rakyat negeri Sorume bergembira, akhirnya kedamaian bisa hadir di negeri menghargai jasa Tasahea & Larumbalangi, para tetua ada sepakat mengangkat Tasahea menjadi bangsawan. Sedangkan Larumbalangi diangkat sebagai pemimpin negeri tempat jatuhnya burung garuda raksasa tersebut pun diberi nama Gunung Mekongga. Simak Video "Dataran yang Terangkat, Kisah Puncak Khayangan Wakatobi " [GambasVideo 20detik] edr/alk
Makassar - Cerita rakyat Sulawesi Selatan Sulsel cukup banyak dan menarik untuk disimak. Cerita rakyat dari Sulawesi Selatan juga menjadi ciri khas khusus dalam budaya dan Sulawesi Selatan cerita rakyat diciptakan bertujuan dalam berbagai hal. Beberapa di antaranya bertujuan untuk penanaman nilai moral dan budaya, serta pembentukan karakter bagi generasi pewaris."Cerita Rakyat dibuat atau diciptakan bertujuan dalam berbagai hal, antara lain untuk merekam kisah atau hikayat atau peristiwa penting di masyarakat yang pernah terjadi, penanaman nilai-nilai moral dan budaya, pembentukan karakter bagi generasi pewaris, hingga pengetahuan budi pekerti kepada masyarakat," kata Budayawan Universitas Hasanuddin, Dr Firman Saleh kepada detikSulsel, Sabtu 16/4/2022. Firman mengungkapkan tokoh atau karakter dalam sebuah cerita rakyat diciptakan bukan tanpa alasan. Melainkan dengan tujuan sebagai contoh dalam penanaman nilai-nilai dalam cerita."Tokoh sebagai sumber yang disorot menjadi gambaran atas tujuan cerita rakyat dibuat guna menjadi idola sekaligus contoh dalam penanaman nilai-nilai, karakter serta budi pekerti yang digambarkan dalam cerita," 8 cerita rakyat Sulawesi Selatan beserta pesan moral yang terkandung di dalamnya yang dirangkum detikSulsel1. I Laurang Manusia UdangLegenda I Laurang Manusia Udang merupakan salah satu cerita rakyat Sulawesi Selatan yang cukup populer. Melansir cerita ini mengisahkan I Laurang, yang konon lahir dengan kondisi seperti udang. Hal itu berawal dari ibunya sangat ingin punya anak, meskipun anaknya mirip kecilnya, ibunya suka sekali menceritakan tentang raja yang memiliki tujuh orang puteri kepada I Laurang. Hal ini membuat I Laurang berkeinginan untuk menikah dengan salah seorang putri raja tersebut. Ia pun meminta orang tuanya untuk melamar salah seorang putri raja itu orang tuanya dengan rasa malu dan resah mencoba melamar putri raja sesuai keinginan dari I Laurang. Namun, dari enam dari ketujuh putri raja menolak lamaran dari I Laurang karena bentuk fisiknya. Hanya si bungsu yang bersedia untuk dipersunting oleh I Laurang pun sangat bahagia mendapat kabar itu. Ia pun keluar dari cangkang kulit udang yang selama ini membungkus dirinya. Ternyata, I Laurang memiliki paras yang sangat tampan dan gagah. Dia pun menikah dengan putri ke tujuh dari raja. Keenam putri yang menolaknya pun menyesal dan merasa iri kepada si I Laurang diutus untuk pergi berdagang, ia harus meninggalkan istrinya. Namun, I Laurang mengetahui niat jahat para saudara istrinya. Dia pun mewanti-wanti istrinya dan memberikan sebuah telur dan pinang untuk selalu dibawa. Saat para saudaranya melakukan aksi jahatnya dengan membuatnya terlempar ke laut, si bungsu tetap bisa selamat karena kedua benda yang diberikan I cerita I Laurang dan si Bungsu bertemu di lautan. Mereka pulang ke istana dengan selamat. Saat Raja mengetahui kejahatan keenam putrinya, Ia pun mengangkat si bungsu sebagai penggantinya. Sementara keenam putri lainnya menjadi pelayan pesan moral yang terkandung dari cerita rakyat Sulawesi Selatan, I Laurang Manusia Udang. Salah satunya adalah tidak menghakimi orang lain berdasarkan penampilan La Dana dan KerbaunyaLa Dana dan Kerbaunya merupakan cerita rakyat Sulawesi Selatan yang berasal dari Tana Toraja. Melansir cerita ini mengisahkan tentang seorang anak petani dari Toraja yang terkenal akan kecerdikannya bernama La kala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu kemudian menjadi suatu hari La Dana bersama temannya diundang untuk menghadiri pesta kematian. Sudah menjadi kebiasaan di Tana Toraja bahwa setiap tamu akan mendapat daging kerbau. La Dana diberi bagian kaki belakang dari kerbau. Sedangkan kawannya menerima hampir seluruh bagian kerbau itu kecuali bagian kaki La Dana mengusulkan pada temannya untuk menggabungkan daging-daging bagian itu dan menukarkannya dengan seekor kerbau hidup. Alasannya, mereka dapat memelihara hewan itu sampai gemuk sebelum disembelih. Mereka beruntung karena usulan tersebut diterima oleh tuan cerita, kerbau hidup itu dipelihara oleh teman La Dana. La Dana pun mengakali temannya dengan mengganggu nya setiap saat bertanya kapan kerbau itu akan disembelih. Temannya pun kesal dan menyuruh La dana mengambil kerbau tersebut. Alhasil, La Dana mendapatkan kerbau hidup nan gemuk dari temannya moral yang dapat dipetik dari cerita rakyat Sulawesi Selatan, La Dana dan Kerbaunya adalah tujuan akan tercapai dengan menggunakan akal dan pikiran, tapi jangan sampai merugikan orang Cerita Rakyat Sulawesi Selatan La Upe dan Ibu TiriLa Upe dan Ibu Tiri adalah cerita rakyat Sulawesi Selatan yang mengisahkan kehidupan anak yang disiksa oleh ibu sambungnya. Melansir cerita ini mengisahkan seorang anak bernama La Upe yang telah ditinggal wafat oleh ibunya. Ayahnya menikahi seorang wanita lain bernama I Ruga yang setiap harinya hanya memarahi dan memukul La tak lama akan berakhir setelah menyelamatkan satu ikan ajaib yang memberinya mantera. Mantera itu bisa diucapkan oleh La Upe untuk mengharapkan sesuatu yang dia itu terbukti ketika La Upe pulang tanpa membawa ikan satu pun. Ketika I Ruga memarahinya lagi La Upe mencoba mantera yang diajarkan ikan dan menyebutkan kalau dia ingin ibunya menjadi lengket seperti perekat. Benar saja, saat I Ruga membuka pintu, tangan dan tubuh I Ruga menempel dengan ayah La Upe pulang, Ia kaget mendapati istrinya menempel di pintu. Setelah mendengar cerita kejadiannya, ayah La Upe pun menasehati istrinya dan meminta La Upe memaafkan ibu tirinya. Mereka pun akhirnya hidup pesan moral yang terkandung pada cerita rakyat Sulawesi Selatan, La Upe dan Ibu Tiri. Salah satunya, menyusahkan orang tak ada gunanya. Jauh lebih baik bila memberi kemudahan pada sesama. Dengan demikian hidup akan dimudahkan oleh Nenek PakandeCerita rakyat Sulawesi Selatan Nenek Pakande adalah legenda yang dipercayai oleh masyarakat Soppeng. Melansir diceritakan dahulu pernah ada suatu desa yang tenteram, namun datang seorang nenek yang sebenarnya adalah seorang siluman pemakan bayi dan anak-anak warga desa tersebut hilang tak tahu kemana. Para warga curiga jika itu adalah ulah dari Nenek Pakande. Para warga juga lantas membuat rencana untuk mengusir Nenek Pakande yang dipimpin oleh pemuda yang bernama La Beddu. Para warga menakut-nakuti nenek Pakande dengan kedatangan raksasa disusun dengan matang, penjebakan Nenek Pakande itu ternyata berhasil. Nenek Pakande pun lari meninggalkan kampong. Tapi dia meninggalkan pesan akan mengawasi anak-anak kecil dari kejauhan. Legenda inilah yang melatarbelakangi kenapa anak kecil dilarang keluar pada waktu maghrib atau malam rakyat Sulawesi Selatan Nenek Pakande ini memiliki banyak pesan moral yang dapat dipetik. Diantaranya yakinlah bahwa kebaikan akan menang. Serta setiap tindakan kejahatan akan terungkap dan mendapatkan Putri TandampalikCerita rakyat Sulawesi Selatan Putri Tandampalik berasal dari tanah Luwu. Melansir dari cerita ini mengisahkan Putri Tandampalik yang merupakan putri dari Datu sebuah lamaran dari Raja Bone yang meminta Putri Tandampalik. Menurut adat, orang Luwu tidak boleh menerima pinangan dari orang lain di luar sukunya. Akan tetapi, untuk menghindari peperangan, Datu Luwu menerima pinangan tersebut dan melanggar adat tersebut. Hal ini untuk menghindari peperangan yang menyengsarakan lamaran itu justru membuat Putri mengalami penyakit kulit yang berbau. Karena penyakitnya ini, Putri Tandampalik pun diasingkan karena penyakitnya bersama pengikut setianya. Datu Luwu terpaksa mengasingkan putri karena tidak ingin penyakit tersebut menular ke warga. Sebelum pergi, Datu Luwu memberikan sebilah keris kepada putri kesayangannya Tandampalik dan pengawalnya menetap di sebuah pulau yang subur dan berhawa sejuk yang diberi nama Wajo. Mereka berusaha dan bekerja membangun kehidupan di pemukiman baru hari, Putri Tandampalik melihat seekor kerbau berwarna putih. Ketika ingin mengusirnya diusir, ternyata Kerbau itu jinak. Kemudian Putri membiarkan kerbau tersebut menjilati permukaan tubuhnya yang ternyata membuat penyakit kulitnya pulih. Kulitnya menjadi bersih dan halus suatu hari, putra mahkota Kerajaan Bone pergi berburu bersama Anre Paguru Pakkannyareng Panglima Kerajaan Bone dan beberapa pengawalnya. Ia kemudian terpisah dari rombongan. Saat berusaha mencari rombongannya, putra mahkota mendapati seorang puteri yang cantik jelita. Tak lain adalah Putri Tandampalik. Ia pun jatuh cinta dan meminang sang putri dengan mengirim pinangan itu tidak segera dijawab. Putri Tandampalik hanya menyerahkan keris pusaka pemberian Datu Luwu dan berpesan agar keris itu dibawa ke Kerajaan Luwu. Jika keris itu diterima dengan baik oleh Datu Luwu maka ia akan menerima pinangan putra Luwu akhirnya menerima pinangan tersebut. Pesta pernikahan Putri Tandampalik dengan Putra Mahkota Kerajaan Bone akhirnya digelar di rakyat Sulawesi Selatan Putri Tandampalik kaya akan pesan moral. Salah satu pesan moral yang tersirat adalah ikhlas menerima cobaan dan ujian dari Tuhan, karena cobaan tersebut tidak akan melebihi kesanggupan Cerita Rakyat Sulawesi Selatan Sawerigading dan We TenriabengKisah Sawerigading dan We Tenriabeng merupakan cerita rakyat Sulawesi Selatan yang cukup popular hingga nasional. Melansir cerita ini mengisahkan tentang Sawerigading yang jatuh cinta dengan saudaranya sendiri We pada zaman dahulu kala, di daerah Luwu, hiduplah seorang Batara Lattu' yang mempunyai dua istri. Salah satu istrinya manusia biasa, dan istri lainnya berasal dari bangsa pernikahannya tersebut, Batara Lattu' dianugerahi sepasang anak kembar emas. Anak laki-lakinya diberi nama Sawerigading dan yang perempuan diberi nama We Tenriabeng. Konon, menurut ramalan, mereka berdua akan jatuh cinta. Sehingga, untuk mencegah hal itu maka dua saudara itu dibesarkan secara dewasa, hal yang ditakutkan itu justru benar-benar terjadi. Sawerigading tiba-tiba bertemu dengan We Tenriabeng dan mereka jatuh cinta. Sawerigading pun ingin menikahi adik kembarnya kedua orang tuanya tidak menyetujui hal itu. We Tenriabeng akhirnya menawarkan solusi kepada kakaknya, yaitu menikahi sepupunya, We Cudai, yang memiliki paras dan perawakan mirip dengan dirinya. Saran itu juga disetujui oleh orang tua bekal, Tenriabeng memberi Sawerigading selembar rambutnya, serta gelang dan cincin emas yang biasa dipakainya. Ketiga benda itu diberikan untuk dicocokkan kepada We Cudai sebagai bukti kemiripannya dengan We akhirnya menerima tawaran untuk mencari We Cudai di China, tepatnya di sebuah wilayah yang sekarang adalah Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulsel. Sesampainya di China cinta Sawerigading bersambut. Sawerigading terpikat melihat Cudai yang memang mirip Tenriabeng. We Cudai pun jatuh hati melihat lelaki gagah yang masih sepupunya itu. Pernikahan pun terjadi dan dari pernikahan tersebut lahir La beberapa pesan moral yang bisa diperoleh dari cerita rakyat Sulawesi Selatan Sawerigading dan We Tenriabeng. Pertama, perlunya menjaga silaturahmi dengan saudara sendiri agar terhindar dari salah paham. Kedua, jangan pernah menyerah dan putus Legenda Si Penakluk RajawaliSi Penakluk Rajawali adalah salah satu cerita rakyat Sulawesi Selatan yang cukup dikenal di Indonesia. Melansir dari cerita ini mengisahkan tentang menceritakan kisah tentang seorang penakluk rajawali, seorang putri raja dan juga seekor diawali dari keresahan seorang raja yang harus mengorbankan satu putri kesayangannya kepada rajawali raksasa. Karena itu, ia pun mengadakan sayembara barang siapa yang bisa menaklukkan rajawali tersebut akan dinikahkan dengan putrinya yang lewatlah seorang pemuda yang melihat sang putri seperti pasrah menanti kematian. Pemuda tersebut memutuskan untuk menemani sang Putri dan akhirnya menaklukkan rajawali para warga yang bersembunyi di sekitar tempat itu baru muncul dan segera mencincang dan memotong-motong tubuh rajawali itu. Mereka ingin dikatakan sebagai pahlawan yang berhasil mengalahkan rajawali itu untuk mendapatkan hadiah yang pemuda sakti itu tidak meminta hadiah yang dijanjikan melainkan pamit meninggalkan sang Putri dan melanjutkan perjalanannya. Sebagai ucapan terima kasih, sang Putri memberikan selendangnya kepada pemuda harinya, digelar pesta besar-besaran. Tidak ketinggalan pula berbagai seni pertunjukan dipertontonkan. Bahkan dalam pesta itu, raja juga mengadakan lomba sepak raga bola kaki. Ternyata pemuda penakluk rajawali turut serta dalam perlombaan itu. Lengan pemuda itu dibalut dengan selendang yang diberikan oleh Raja sangat kagum kepada pemuda itu. Karena selain sakti pemuda itu juga mahir bermain sepak raga. Akhirnya, sang Raja pun menikahkan pemuda itu dengan putrinya yang selamat dari santapan moral dari cerita rakyat Sulawesi Selatan, Si Penakluk Rajawali adalah harus tulus dalam tolong menolong. Serta tidak mengharapkan imbalan dari hal yang tidak Cerita Rakyat Sulawesi Selatan Kisah La Tongko-TongkoKisah La Tongko-Tongko berasal dari cerita rakyat Sulawesi Selatan. Melansir buku Cerita Rakyat Daerah Wajo di Sulawesi Selatan, di kisahkan hidup seseorang anak yang sangat bodoh bernama La hari, La Tongko-Tongko mengatakan kepada ibunya bahwa dia ingin menikah. Ibunya mengatakan untuk mencari gadis yang ingin menikah Tongko-tongko pun pergi berjalan-jalan untuk mencari perempuan. Tidak lama kemudian La Tongko-tongko bertemu gadis pembawa kentang dan mengatakan kepada gadis tersebut bahwa Ia ingin menikahinya. Gadis tersebut pun melemparnya dengan kentang. Hal itu pun terulang saat La Tong-tongko ia menemui pembawa putus asa, La Tongko-tongko kemudian masuk ke sebuah sebuah tempat sepi penuh dengan semak-semak dan menemukan gadis. Dia kembali mengutarakan keinginannya untuk menikahi gadis itu. Tetapi tidak mendapat merespon karena ternyata gadis tersebut telah meninggal. Karena tidak merespon saat diajak menikah, La Tongko-tongko menganggap gadis itu setuju dan membawanya pulang. Ibunya pun kaget melihat mayat di La Tongko-tongko bertanya kepada ibunya, bagaimana Ia mengetahui bahwa itu mayat. Sang ibu mengatakan hal itu diketahui dari bau mayat dari gadis harinya, La Tongko-tongo tiba-tiba mencium bau busuk saat makan malam bersama ibunya. Ia pun mengatakan bahwa ibunya sudah mati dan ingin menguburnya. Padahal sang ibu hanya kentut. Ibunya pun lari keluar menjauhi La tak lama La Tongko-tongko pun kentut. Setelah mencium bau busuk dari tubuhnya, Ia pun mengubur untuk tubuhnya sementara kepalanya tetap di atas moral yang paling ditekankan pada cerita rakyat Sulawesi Selatan ini adalah berpikirlah sebelum bertindak dan tidak menelan mentah-mentah informasi yang diterima. Simak Video "Siswa SMP di Makassar Tewas, Diduga Terjatuh dari Gedung Sekolah" [GambasVideo 20detik] asm/sar
Mawasangka merupakan penamaan yang ditujukan bagi kelompok masyarakat yang ada di Sulawesi Tenggara. Mawasangka merupakan kelompok masyarakat yang mendiami sebuah kecamatan di Kabupaten Buton Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara. Nama Mawasangka tidak hanya ditujukan untuk kelompok masyarakat, tetapi juga diabadikan dalam nama sebuah Mawasangka pada orang-orang di Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah, menyimpan kisah yang panjang. Baca juga Cerita Rakyat Batu Kurimbang Alang Asal Usul Nama Mawasangka Menurut tradisi lisan masyarakat Sulawesi Tenggara, khususnya di Kabupaten Buton Tengah, di balik nama Mawasangka ada kisah yang panjang menyertainya. Dikisahkan, dahulu ada sebuah keluarga yang datang dari Bone menuju Buton dengan menggunakan perahu. Tujuan kedatangan mereka ke Buton adalah untuk mencari kakak dari seorang perempuan. Perempuan itu pergi ke Buton bersama suaminya. Kakaknya perempuan ini telah lama meninggalkan tanah kelahirannya di Bone sepeninggal orang tuanya. Ketika dalam perjalanan menuju lokasi yang menjadi tempat kepergian kakaknya ini, cuaca kurang bersahabat dengan mereka. Perahu yang mereka tumpanginya kemudian terbalik. Bekal tak dapat diselamatkan, kecuali hanya seekor ayam jantan. Akibatnya suami istri itu terdampar di sebuah pantai dan mendirikan pondok kecil dan mencari makan di sekitar pantai tersebut. Di saat suaminya sedang mencari makanan ke hutan, munculah seorang pemuda yang membawa seekor ayam jantan. Baca juga Cerita Rakyat Batu Prasasti Pagaruyung I Pemuda ini berniat menyabung ayam miliknya dengan seekor ayam di pantai itu yang tidak lain adalah milik pasangan suami istri tadi. Anehnya, kedua ayam tersebut tidak mau berkelahi. Pemuda ini pun bingung dengan kedua ayam yang tak biasanya itu. Di tengah kebingungannya, pemuda ini melihat seorang perempuan di pondok. Ketika suami sang perempuan telah kembali, pemuda ini pun menghampiri mereka. Ketika sedang berbincang, pemuda dan perempuan ini menyadari ada yang janggal. Mereka berdua sama-sama mengenakan cincin yang sama di jarinya yang merupakan pemberian dari mendiang orang tuanya. Perempuan ini kemudian menyadari bahwa pemuda yang membawa ayam ini adalah cerita, pemuda tadi memberitahukan lokasi yang layak untuk bermukim. Kemudian, berangkatlah mereka ke lokasi yang bernama Mparigi. Di Mparigi, mereka hidup seperti biasanya dan beranak-pinak sehingga lama kelamaan kampung itu telah ramai oleh masyarakat. Kemudian, masyarakat mengangkat pemuda tadi seorang kepala suku mereka yang disebut dengan Kolakino Mparigi. Desa yang mereka tempati suatu ketika mulai sering mendapat serangan dari binatang. Akhirnya, kepala suku Mparigi melaporkan keluhannya kepada kepala suku lain, Kolakino La Mansenga. Kemudian oleh kepala suku itu, diberitahukan ada sebuah lokasi yang aman dan damai. Lokasi ini memiliki sebuah pohon besar yang daun dan buahnya beraneka ragam. Oleh karena itu, lokasi baru ini diberi nama Sau Sumangka yang artinya serba lengkap. Mereka kemudian memindahkan kampungnya di sana. Baca juga Danau Biru Kolaka Daya Tarik, Cerita Rakyat, dan Rute Setelah sekian lama, Kolakino Mpagi mendeklarasikan bahwa ialah yang pertama kali menemukan pohon ajaib itu. Namun, Kolakino La Mansenga menyangkal klaim dari Mparigi hingga terjadilah pertengkaran antara keduanya. Akibatnya, Mpasenga mengeluarkan sumpah di hadapan masyarakat, apabila benar ia yang pertama menemukan pohon itu, maka tanah sekitar pohon itu akan selalu ditimpa musibah bilmana suku Kolakino Mparigi mengelolanya. Sebaliknya, jika benar Mparigi yang pertama menemukan pohon ajaib itu, maka semoga senantiasa dilimpahi keselamatan. Benar saja, terjadilah musibah-musibah aneh di sekitar pohon itu yang berarti Kolakino La Mansenga merupakan orang pertama yang menemukan pohon itu. Semua yang ditanam oleh rakyat Mparigi mengalami gagal panen, segala ternak mengalami kematian tidak jelas, serta terjadilah musibah-musibah lainnya. Kejadian aneh yang lain adalah ketika seorang menggali ubi, tiba-tiba memancarkan air dari galian itu yang mengakibatkan kebun-kebun tergenang dan masyarakat kelaparan. Tetua dusun kemudian berunding akan melakukan upacara adat membersihkan musibah. Kemudian, disembelihlah ayam yang dibawa oleh sepasang suami istri dari Bone itu sebagai persembahan agar tidak terjadi lagi musibah. Kemudian, tempat itu dikenal dengan nama pohon ajaib itu, La Sumangka. Lambat laun, masyarakat menyebutnya menjadi Mawasangka. Baca juga Cerita Rakyat Antu Bisiak, Misteri Suara Bisikan Referensi Rasyid, A. 1998. Cerita Rakyat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara. Jakarta Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.